Di Balik Layar Mastercamp: Kemah Penyuluh Antikopursi

Tulisan kali ini saya menulis untuk memenuhi tantangan pertama Komunitas One Day One Post Batch 4, yaitu Tentang Aku dan Pengalaman yang Paling Berkesan di Hidupku.

Tentang Aku

Duh, gimana gitu rasanya diminta cerita tentang diri sendiri. Hal yang sering dilakukan, namun tetap saja rasanya sungkan. But anyway, cukup sekian basa-basinya šŸ˜.

I’m single. Late 20s. Saya memiliki tiga adik perempuan. Urutan yang setelah saya Alhamdulillah sudah menemukan jodohnya Oktober tahun lalu dan sekarang sedang menanti kehadiran sang buah hati. Adik kedua saya sedang asik-asiknya menikmati tahun terakhir di SMA. Yang paling kecil, kami berjarak 18 tahun, baru kelas 4 SD.

Aktivitas saya sebagai guru privat. Jam ngajarnya sore sampai malam. Jadi, kalau orang-orang pulang kerja, saya mah baru berangkat. Selain itu, saya bekerja paruh waktu sebagai fasilitator di Daarut Tauhiid Event Organizer. Bisa dibaca cerita saya di sini dan di sini.

Saya tidak mudah berteman, pemalu pada awalnya, tetapi saat sudah nyaman dengan seseorang saya tidak dapat dikategorikan sebagai introvert lagi.

Saya suka belajar dan senang mengamati. Dahulu saya pemlalu sekali, saat ada keinginan untuk melakukan sesuatu saya lebih mengedepankan rasa malu. Sampai pada masa di mana saya jenuh dengan keadaan saya. Saya butuh revolusi. Jadilah, saya memberanikan diri memulai aktivitas-aktivitas di luar zona nyamannya saya.

Salah satunya adalah menjadi bagian dari Kegiatan Mastercamp: Kemah Penyuluh Antikorupsi. Salah satu keputusan terbaik yang pernah saya buat dalam hidup ini.

Di Balik Layar Mastercamp: Kemah Penyuluh Antikorupsi.

Apa itu Mastercamp: Kemah Penyuluh Anti Korupsi? Ini adalah pelatihan yang diadakan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang mengacu kepada Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) Penyuluh Antikorupsi. Bahasa sederhananya adalah Sertifikasi Penyuluh Antikorupsi.

Kegiatan ini luar biasa. Mulai dari tim panitia sampai para pesertanya. Kapasitas saya pada kegiatan ini sebagai Narahubung dan fasilitator kelompok. Kedua amanah ini memberikan pengalaman yang sangat berkesan.

Saya sedikit cerita mengenai persiapannya dulu, ya.

Kegiatan Mastercamp ini diawali dengan Pra Konvensi SKKNI Penyuluh Antikorupsi oleh KPK, kemudian dilanjutkan dengan Konvensinya. Setelah itu, barulah dimulai Focus Group Discussion (FGD) sebanyak tiga kali untuk merumuskan SKKNI Penyuluh Antikorupsi. Dirumuskan 20 Unit Kompetensi yang harus dimiliki seorang Penyuluh Antikorupsi.

Pada Mastercamp kali ini, peserta mendapatkan pelatihan Unit Kompetensi 1-9. Peserta yang ikut orang-orang keren dibidangnya masing-masing. Saya sempat ciut saat membaca daftar pesertanya. Ada widyaiswaya dari kementrian dan lembaga pemerintahan, dosen bahkan profesor, guru, tim pengajar corporate university, organisasi-organisasi besar, BUMN, perwakilan komunitas dan mahasiswa.

Menjadi narahubung pada kegiatan ini cukup drama. Ketika mulai menghubungi peserta melalui telepon dan tidak diangkat rasanya deg-degan. Pas ternyata diangkat pun makin deg-degan. Khawatir ada salah ngomong dan malah informasi yang harus saya sampaikan tidak dapat diterima oleh peserta. Saat telepon saya tidak ditanggapi dan saya mengetahui nomor tersebut terintegrasi dengan WA, saya langsung terpikir untuk coba di WA dulu. Tapi, drama juga. Saya ragu-ragu untuk mulai chat. Khawatir nggak sopan dan malah memberikan citra buruk. Ternyata, dengan narasi yang tepat hal itu nggak bermasalah. Malah alur komunikasi seterusnya banyak dilakukan melalui aplikasi tersebut.

Alhamdulillah, hal-hal buruk yang sempat terpikirkan oleh saya tidak ada yang kejadian. Banyak hal unik yang berbeda dengan pelatihan lainnya yang bikin saya takjub. Tim panita dari KPK berhasil meramu kegiatan yang apik. Out of the box.

Lokasi Pelatihan

DSC_8658Dengan durasi 6 hari dan kategori peserta yang hebat-hebat saya mengira pelatihan akan diadakan di hotel berbintang dengan segala kenyamanannya. Ternyata, lokasi yang dipilih adalah Desa Wisata. Hah, apa itu? Saya seumur-umur belum pernah dengar. Ini jadi pengalaman pertama saya berkunjung ke Desa Wisata.

Desa Wisata yang terpilih adalah Desa Wisata Kebon Agong Imogiri, Bantul, Yogyakarta. Dikarenakan ini desa wisata, maka kami tinggal di desa. Tidak ada penginapan atau hotel. Lalu, pesertanya tidur di mana? Di rumah-rumah penduduk. Homestay. Termasuk panitia, fasilitator, mentor dan pembicara.

Aula yang dijadikan tempat utama kegiatan adalah balai desa. Di sana pun disediakan sepeda ontel untuk peserta yang jarak homestay ke balai desa cukup jauh. Saya sempat mencoba menaiki ontelnya, tapi cukup sekali dan tidak mau lagi. Ontelnya tinggi banget. Saya harus mengayuh sepedanya dulu untuk dapat duduk. Horornya saat ngerem. Kaki saya tidak bisa menyentuh tanah, karena ukuran badan ini hanya mencapai 150 cm. Jadilah, perlu strategi. Hahahaha…

Literasi on The Train

12Peserta awalnya dikumpulkan di Gedung KPK untuk mengikuti acara pembukaan. Setelah itu, bersama-sama kami berangkat menuju Yogya menggunakan kereta api. Dalam perjalanan di kereta api dibuat kegiatan bertajuk Literasi on The Train. Pada aktivitas ini peserta diminta untuk bercerita mengenai tokoh-tokoh inspiratif yang ada di dalam buku Orange Juice terbitan KPK. Acara dipandu oleh peserta yang jago-jago bercerita. Ada Mba Karin dari Gagsa Ceria Bandung, Pak Bams dari Ayo Main dan ada juga Mas Tasaro dari Kampoeng Boekoe.

Mengenal Korupsi dengan Board Games

Salah satu andalan KPK dalam penyuluhannya adalah bermain Board Games. KPK memiliki beragam jenis board games dengan tujuan yang berbeda. Ada yang untuk sekolah, bisnis dan umum. Pada pelatihan ini setiap peserta diberi kesempatan bermain board games KSATRIA.

13

Board games yang menjelaskan bagaimana sebuah korupi itu ditindaklanjuti. Dari pencarian barang bukti dan proses hukumnya. Cara yang mudah dicerna untuk kita-kita yang sulit memahami bahasa hukum.

Peserta yang Kooperatif

Saya belum pernah mendapatkan peserta yang seaktif ini. Mereka, dengan segala keahliannya masih mau menerima ilmu-ilmu yang diberikan dan mengerjakan tugas-tugas. Tugas seperti membuat mading, bermain peran, dilakukan dengan serius dan jujur apa pun yang dilakukan dengan serius akan memberikan hasil yang baik.

Saya kebagian menjadi fasilitator kelompok ASN 1. Di sini saya merasa malah saya yang belajar dari mereka. Banyak sekali ilmunya. Terutama bagaimana keseriusan mereka untuk mengembangkan kompetensi dalam pekerjaan mereka. Rasanya saya tuh nggak ada apa-apanya. Perjuangan saya dalam mencapai apa yang saya mau masih dipermukaan. Di situ saya terpacu. Mengamati bagaimana mereka mengambil keputusan dan bertindak.

Yang mengesankan lainnya adalah peserta dari latar belakang yang berbeda ini, rentang usia 20-60 tahun, tidak membedakan diri mereka dengan satu dan lainnya. Pada salah satu sesi, contract orienteering ada peserta mahasiswa yang menjadi pemimpin kelompok dengan profesor menjadi anggota kelompoknya. Seru menyaksikan kerja sam mereka. Saya masih terkesan sampai sekarang jika mengingat moment itu lagi.

Masih banyak yang ingin saya sampaikan dari Mastercamp ini. Tapi, untuk saat ini saya akan menyudahinya dahulu. Semoga bisa dilanjut pada postingan-postingan berikutnya.

Mastercamp! Jujur, Kompeten, Berjaya.

Ā©rasacerita. Page 6 of 354. 10 Muharram 1439 H.

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *