Potret

Matahari di Makassar terasa lebih panas dari Bandung. Celakanya, aku tidak punya pilihan lain. Selama Mama tidak tahu. Rasanya aku aman.

“Alia!”, suara yang sudah sangat aku kenal itu memanggil. Banyaknya pengunjung Bandara Hasanuddin hari ini tidak menyulitkanku mengenali pemilik suara itu. Arkan. Teman sekelas semasa kuliah dan aku pernah jatuh cinta padanya. Aku sangat mengenalnya, bahkan untuk hal yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Kini aku tahu alasannya.
Lelaki itu telah berdiri tepat di hadapanku. Aku berusaha untuk tersenyum. Walau pun sulit. Akan tetapi, aku yakin kedua ujung bibirku telah berhasil terangkat. Entahlah, dia tidak memberikan senyuman balik. Dia menatapku lekat-lekat dengan alis terangkat.

“Kamu kenapa berdarah?” ucapnya sambil menunjuk ke arah hidungku.

Kupegang hidungku. Ah, benar saja. Kuambil tisu dari tas dan bergegas membersihkannya.

“Kepanasan?” lanjutnya dengan nada menggoda. Aku tak menggubrisnya dan memilih berjalan menuju parkiran.

***

“Kamu nggak bosen cuma dengerin satu lagu sampai Bantaeng nanti? Lama, loh, perjalanannya.” Ada nada pinta dalam ucapannya barusan. Aku masih malas menanggapinya. Kugelenggkan kepala.

Kuhela nafas. Kupejamkan mata, mencoba melebur dengan satu-satunya lagu yang sengaja aku persiapkan untuk menemani perjalanan berat ini.

Loving can hurt, loving can hurt sometimes. But it’s the only thing that I know… . Lagu itu kembali terputar dari detik pertama. Memaksa pikiranku berkelana pada memori bahagia antara aku dan Ayah. Momen di mana Ayah terasa begitu sempurna. Seseorang yang penyayang, pengertian dan bijaksana. Seseorang yang aku yakin tanpa rahasia. Atau setidaknya aku meyakini dia tidak merahasiakan apa pun dariku. Kenyataannya, everyone has a chapter they don’t read out loud.

Sepekan sudah ia kembali pada Sang Kuasa, selama itu juga aku mencoba mencerna serpihan-serpihan hidupnya yang tidak pernah kujamah.

We keep this love in a photograph. Ah, lirik itu. Mata ini mulai basah. Bagaimana bisa? We made these memories for ourselves. Kupejamkan lagi mata ini. Ayah, you made those memories for yourself. Mengapa?

Wajah Ayah kembali terbayang. Senyumnya, ucapan selamat pagi dengan kecupan di kening yang selalu ia berikan saat kami sarapan, tuluskah itu? Atau hanya sekadar menggugurkan kewajibannya sebagai seorang ayah?

Well, sometimes, the best therapy is a long drive and music.” ucap Arkan seolah memahami apa yang ada dalam hati dan pikiranku.

“Kamu bener-bener mirip sama Ayah,” kataku menanggapi kalimatnya barusan sambil meneliti setiap inci wajahnya. Dia terlalu mirip ibunya secara fisik. Namun, perangainya jelas menurun dari Ayah.

Arkan hanya diam. Dia sibuk meregangkan jemarinya pada kemudi. Pandangannya lurus ke depan jalan, menerawang. “Kamu tahu dari mana?” tanyanya sambil menepi.

Kami saling tatap. Aku tidak mampu lagi menahan butir-butir bening turun dari kedua mata ini. Seketika aku teringat kembali pada malam setelah pemakaman Ayah. Aku melintasi ruang kerjanya. Sunyi. Namun, aku dapat merasakan keberadaannya di sana. Serasa harum tubuhnya melekat pada setiap benda yang mengisi ruang itu. Ruang favoritnya. Ia tidak pernah bosan berlama-lama dalam sana. Menenggelamkan diri pada buku-buku bersampul hitam yang entah apa isinya.

Pada saat Ayah masih hidup aku tidak berani menanyakan apa isi buku-buku itu, karena aku pikir itu semua urusan kerjanya. Malam itu berbeda, aku ingin sekali membacanya. Buku-buku hitam itu berada pada rak terkunci. Akan tetapi, rasa penasaran ini membuatku berani untuk memecahkan kacanya. Kuambil buku dengan tulisan bilangan satu. Tak percaya dengan apa yang aku lihat pada buku itu. Aku mengambil buku yang lainnya. Dua puluh sembilan buku jumlahnya.

Kuamati baik-baik wajah-wajah pada buku yang ternyata sebuah album foto. Hanya album pertama yang berisi tiga orang. Ayah, Arkan dan Ibundanya. Dua puluh delapan album lainnya, tidak ada foto Ayah di sana. Dan rasanya aku tahu mengapa.

Arkan meraih tanganku. Menggenggamnya erat.

“Mereka menikah. Tapi, setelah aku lahir Ayah diminta keluarganya untuk bercerai. Atau Ayah tidak akan pernah melihat kami lagi. Ibuku bukan Mama kamu, dia hanya anak seorang nelayan.” Arkan menjelaskan.

Air mataku semakin deras. Kuambil album pertama dari dalam tas, kuserahkan kepada Arkan. Arkan membukanya. Lembar demi lembar. Air matanya mulai mengalir.

Because we don’t save what we don’t love,” ucapku lirih.

©rasacerita
Page 12 of 354
16 Muharram 1439H

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *