Bukan kisah Cinderella

Hai, dialah Ella. Gadis periang, berparas cantik dan suka menolong. Ibunya telah meninggal. Ayahnya seorang pedagang dan sudah menikah lagi dengan seorang janda beranak dua. Tak lama setelah pernikahan tersebut, ayahnya meninggal dunia.

Tersebar berita, setelah keperian ayahnya Ella diperlakukan buruk oleh Ibu Tiri dan Saudari Tirinya. Mereka memberhentikan seluruh pekerja di rumah tersebut. Ella dipaksa mengerjakan seluruh pekerjaan rumah, dibentak-bentak, diberi makan satu kali sehari bahkan tidak diberikan baju yang layak. Begitu baiknya Ella, ia tidak pernah mengungkapkan penderitaannya kepada orang lain. Ia melakukan apa pun yang diperintahkan mereka tanpa pernah mengeluh.

Suatu hari, datanglah pengawal kerajaan yang mneyebarkan surat undangan dari Istana. Mendapati undangan tersebut Ibu Tiri dan Saudari Tirinya teramat senang. Setiap hari menjelang pesta mereka sibuk bebenah, merapikan diri. Memastikan mereka terlihat cantik dan sempurna agar keluarga kerajaan dapat tertarik kepada mereka.

Ella ingin sekali pergi menghadiri pesta tersebut. Ia pun memberanikan diri berbicara kepada Ibu Tirinya.

“Bisakah aku ikut pesta itu?” tanya Ella dengan sangat hati-hati.

“Adakah baju yang layak yang dapat kau gunakan? Lihatlah bajumu sekarang!” Sang Ibu Tiri mengejeknya.

“Aku masih memiliki gaun pesta ibuku,” Ella memberikan penjelasan seraya menunjukkan gaun peninggalan ibunya.

Ibu Tiri dan Saudari Tirinya tertawa terbahak-bahak melihat gaun yang Ella pegang. “Kuno sekali,” celetuk salah satu saudara tirinya.

Singkat cerita, tibalah waktu untuk berpesta. Ella tetap berusaha agar dapat menghadirinya. Sayang, mereka tidak mengajak Ella dan membiarkan Ella tetap di rumah.

Ella menyadari bahwa dia bukanlah siapa-siapa. Hanya anak yatim piatu yang masih diberi kesempatan tinggal di rumahnya oleh ibu tirinya. Ella duduk di halaman belakang, meratapi nasibnya kini.

Tiba-tiba, hadir seorang ibu peri. “Aku akan memastikan dirimu tiba di Istana dengan gaun terindah,” ucap Ibu Peri. Ella merasa begitu bahagia. Dengan tongkat ajaibnya, ibu peri menyulap benda-benda di sekitar Ella hingga Ella siap berangkat.

“Adakah peritahmu yang harus aku ikuti?” tanya Ella kepada Ibu Peri. Ibu Peri menggeleng dan memberi isyarat agar Ella segera berangkat.

Tibalah Ella di Istana. Sejak memasuki halaman istana Ella merasakan ada yang berbeda. Para pengawal seolah telah mengenalnya. Dia diperlakukan begitu baik, bahkan diantar sampai ke dalam istana. Saat pintu aula telah terbuka, semua mata memandang kearahnya. Tidak diduga, Ibu Tiri dan Saudari Tirinya menyambutnya.

“Aku kira Ibu Peri lupa akan tugasnya,” kata Ibu Tirinya dengan senyuman yang belum pernah dilihat Ella.

“Aku tidak mengerti,” Ella bingung.

Saudari Tirinya menghampiri Ella. Lalu, mengapitnya dan membimbing Ella hingga di tengah aula.

“Kau sudah dijodohkan oleh Pangeran setelah kepergian Ibumu, Ella. Ayahmu dan Raja telah berencana untuk memastikan dirimu tidak menjadi putri yang manja. Karena kelak kau akan membantu pangeran mengurusin istana dan rakyat-rakyatnya.” jelas Ibu Tirinya.

“Kami hanya menjalankan apa yang diperintahkan. Maafkan kami yang sudah begitu buruk kepadamu,” ungkap saudari tirinya kemudian memeluk Ella.

Tak lama berselang, pangeran hadir dihadapannya. Lalu, berlangsunglah pernikahan mereka.

Tamat.

Kisah ini murni fiktif belaka yang merupakan bagian dari Tantangan One Day One Post Batch 4. Jika ditemukan alur, percakapan dan kata-kata yang tidak sesuai harap maklum.

©rasacerita
Page 21 of 354
25 Muharram 1439 H

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *