Sang Buya dari Minangkabau

Belum pernah saya menemukan satu buku yang dapat dikatakan favorit sampai saya ‘dipinjamkan’ buku yang berjudul Buya Hamka Berbicara Tentang Perempuan. Iya, dipinjamkan dengan kalimat yang lebih tepat disuruh membacanya.

Pada suatu sabtu, selepas belajar tahsin seorang sahabat menyodorkan buku tersebut kepada saya. “Baca! Ini buku bagus,” perintahnya. Saya menurut saja. Kebetulan sudah lama saya ingin membaca karya-karya beliau.

Buya Hamka

Saya mengenal Buya Hamka dari literatur sekolah. Membaca sedikit karangannya yang menjadi bagian dari pembahasan pelajaran Bahasa Indonesia. Barulah ini saya membaca karyanya yang utuh. Yang langsung membuat saya jatuh hati. Bagaimana bisa ada penulis yang seperti ini? Yang menulis bagai sedang bercakap-cakap langsung. Yang memilih setiap kata dengan tepat, kemudian dirangkai dengan begitu santun.

Terlahir dari ibu keturunan Miang, sejak kecil saya terbiasa mendengar tetua-tetua berbicara. Setiap saat saya membaca buku-buku karangan Buya Hamka, tak luput dari ingatan bagaimana anduang saya kala bercerita. Sampai-sampai saya pernah bertanya kepada Ibu saya, “seperti inikah kebiasaan orang-orang Minang dahulu bertutur?”, karena begitu miripya. Itu pula rasanya yang menyebabkan saya menyukai tulisan Buya Hamka ini. Bagai melepas rindu kepada almarhumah anduang tercinta.

Saya tak mengenal Buya Hamka secara personal. Toh, memang beliau sudah meninggal bahkan sebelum ibu dan ayah saya bertemu. Dengan berlandas pada kalimat tak kenal maka taaruf saya mencari jejak-jejak sang buya baik di internet maupun melalui buku-buku yang merangkum biografi beliau.

Barulah kemudian saya tahu bahwa Hamka bukanlah nama aslinya, melaikan akronim dari namanya, yaitu Haji Abdul Malik Karim Amrullah. Sedangkan, gelar Buya merupakan panggilan buat orang Minangkabau yang berasal dari kata abi, abuya dalam bahasa Arab, yang berarti ayahku, atau seseorang yang dihormati.

Yang menarik dari Buya Hamka adalah beliau bersekolah di sekolah dasar Maninjau hanya sekitar tiga tahun. Pada usianya yang kesepuluh, Buya Hamka meneruskan belajarnya di Sumatera Thawalib, Padang Panjang, yang didirikan oleh ayahnya untuk belajar agama. Sayangnya, Buya Hamka menjadi cepat jenuh karena banyaknya menghafal di Thawalib itu. Pelajaran yang menarik bagi Hamka kecil hanyalah arudh yang membahas tentang syair dalam bahasa Arab.

Pada masa remaja Buya Hamka mengaji kepada ulama Syekh Ibrahim Musa di Parabek. Setelahnya ia yang dikenal suka merantau, sehingga diberi gelar oleh ayahnya ‘Si Bujang Jauh’, menimba ilmu di Jawa. Singkat cerita, sepulangnya dari Jawa, Muhammadiyah membuka sekolah di Padang Panjang. Buya Hamka mencoba melamar sebagai guru, namun ia tidak lolos karena tidak memiliki diploma.

Tanpa bekal diploma, Buya Hamka tidak surut dalam menuntut ilmu. Beliau dikenal dengan keahlian otodidaknya dalam berbagai bidang. Semangatnya dalam belajar ini menginspirasi saya. Membuktikan bahwa bukan ijazah yang menjadikan seseorang itu sukses melainkan perjuangan dalam meraihnya. Sebagaimana kita ketahui Buya Hamka mendapat gelar Profeser kemudian. Sehingga, saya jadi menekankan pada diri sendiri jika ijazah yang ada di rumah ini harusnya mampu memberi lebih dari yang telah Buya Hamka raih.

Satu kutipan yang terus melekat setelah membaca Buya Hamka Berbicara Tentang Perempuan adalah, “Perempuan sebagai empu jari menjadi penguat dan jari tidak dapat menggenggam erat dan memegang teguh kalau empu jarinya tidak ada. Dari empu itulah asal kata perempuan”.

©rasacerita. Page 29 of 354. 03 Safar 1439 H

You may also like

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *