Abe

“Permisi, ya, permisi, Arti kelebet!” bocal lelaki itu setengah berlari menuju bilik toilet yang kosong sembari memegang celananya.

“Kebelet, Art,” koreksi dirimu dihiasi senyum yang menggoda.

“Abe!” Seru Arti dari dalam.

Tawa renyahmu menggema. Kamu menyusulnya, menunggu di depan bilik yang dibiarkan Arti sedikit terbuka.

“Elo nih Dirga, orang udah kebelet masih aja dibenerin ucapannya,” timpal Mas Arkan yang kebetulan ada di toilet juga.

Orang-orang di sana itu pun ikut tertawa. Kamu menghelas napas. Seolah lega dengan sambutan tersebut. Pasalnya, sebagai karyawan baru yang belum genap satu bulan bekerja kamu masih begitu canggung. Terutama setelah sampai padamu berita pegawai lama yang merasa cemburu karena Arti dapat ikut denganmu bekerja.

“Kenapa Arti nggak dipakein pempers aja, Dir?” tanya Mas Dewo, bagian HRD yang mewawancaraimu, yang membolehkan dirimu membawa Arti ke kantor.

“Soalnya gegara Abe kerja di sini,” Arti menjelaskan tanpa diminta seraya melangkah keluar dari bilik toilet.

“Loh?” Mas Arkan terkekeh.

“Jadi, gegara Abe kerja di sini. Terus, kosnya pindah. Biar deket kata Abe, tuh di sana,” Arti menunjuk entah ke mana. “Tapi, Abe bilang mahal bayarnya… Abenya, belum ada cukup uang. Jadinya, Abe bilang, Arti belajar nggak pakai pempers, ya. Biar irit. Terus Arti bilang, iya, gitu”.

Sontak, yang masih ada di toilet kembali tertawa mendengarnya.

Kamu mengacak-acak rambutnya. “Art, itukan rahasia,” ucapmu kemudian.

Arti mengangkat kepalanya, mengamatimu, “Abe nggak bilang itu rahasia,” sahut Arti polos yang lagi-lagi disambut gemuruh tawa. Lalu, kamu menuntun Arti ke westafel, membimbingnya mencuci tangan.

“Mari kita cuci tangan…,” kamu mulai mengiramakan sebuah lagu, Enam Langkah Cuci Tangan judulnya. Tanpa aba-aba Arti segera mengikutinya. “Enam langkah berurutan. Basahi dulu dengan air, beri sabun baru mulai. Tiga kali ratakan. Gosok punggung tangan kiri. Gosok punggung tangan kanan juga dua telapak tangan. Dua tangan kuncikan. Ibu jari kiri bersihkan. Ibu jari kanan bersihkan. Ujung jari putarkan. Jari tangan kanan jari kiri, bilas air mengalir. Keringkan dengan sempurna. Bersih kedua tangannku.”

***

Kamu memandang Arti lekat-lekat. Bocah itu duduk dipangkuanmu sambil meminum susu. Kamu mengusap pelan kepalanya, sesekali mencium ubun-ubunnya. “Yang pinter ya, Art. Jangan rewel, ya. Abe mau rapat dulu.”

“Iya,” jawabnya patuh disusul senyum tulusnya yang selalu membuatmu ikut tersenyum juga.

Kamu beranjak dari kursi. Membiarkan Arti duduk di sana sementara kamu menggelar sleeping bag di kolong meja. Setelah rapih, Arti pindah ke sana. Siap untuk tidur siang. Kamu mencium keningnya, “tidur nyenyak, ya,” perintahmu. Arti mengangguk.

“Abe, jangan marah-marah nanti di rapatnya, ya,” Arti memasang ekspresi layaknya orang tua yang sedang menasehati anaknya. Kamu menyeringai, mengingat rapat pekan lalu di mana kamu marah-marah dan membuat Arti takut sampai menangis tersedu-sedu.

Kamu bangkit lagi, mempersiapkan laptop untuk di bawa. Tanpa sengaja, lengan kananmu menyentuh pigura berbentuk kubus ukuran dua puluh cm berwarna putih yang tergantung di dinding bilik kerjamu hingga terjatuh. Arti muncul dari kolong meja, “Kenapa, Abe?”

Kamu tidak menjawabnya. Matamu terpaku pada isi pigura itu. Seorang pria usia empat puluh lima dengan bentuk muka khas orang Sumatera. Di sebelahnya duduk seorang wanita sedang menggendong bayi yang masih merah. Jilbab lebar yang dikenakannya tidak memalingkan wajah Eropanya yang kental. Ada kamu di potret itu, berdiri sambil merangkul ibumu dari belakang.

“Ibu sama Ayah lagi apa ya di Surga?” suara Arti membuyarkan lamunannya. Arti telah berdiri di samping meja.

Kamu menghempaskan tubuh ke kursi. Menatap Arti lekat-lekat. Arti pun melakukan hal yang sama. Kamu raih kedua tangannya, “Ibu Ayah lagi jagain kita dari sana,” ucapmu lirih hampir tak terdengar. Kristal bening di ujung kedua matamu tak mampu ditahan. Kamu biarkan mereka mengalir begitu saja.

Arti mendekapmu, “Arti sayang, Abe. Abe jangan nangis. Ada Arti di sini.”

Kamu tidak menjawab. Kamu hanya membiarkan Arti memelukmu sampai ia melepaskan sendiri pelukannya.

©rasacerita. Page 42 of 354. 16 Safar 1439 H.

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *