Kakak Rasa Bapak Part 1

Dirga, Ibu sudah melahirkan. Adikmu laki-laki, Nak. Alhamdulillah Ibu sehat. Adikmu juga sehat. Cepat ke sini, Ayah tunggu.

Gemetar kamu membaca pesan singkat dari Ayahmu. “What?” ada nada terkejut barusan. Kamu menarik napas panjang dan menghelanya dalam. Kedua ujung bibirmu terangkat, sinar matamu memancarkan ketakjuban. Tak percaya dengan apa yang baru saja kamu baca. Ibumu melahirkan! Akhirnya kamu memiliki adik. Hanya saja waktu yang Allah tentukan benar-benar tak terduga. Begitu nyata rahasiaNya.

Man,” kamu menepuk punggung rekan kerjamu cukup keras hingga menimbulkan bunyi. Sang empunya menoleh ke arahmu. Matanya menatapmu tajam.

“Njir! Napa, Lo?” setengah marah, Zivar berseru.

“Gokil Bang, setelah dua puluh empat tahun gue hidup akhirnya jadi Abang juga gue!” jelasmu seraya menguncang-guncang pundaknya dan kembali menepuk keras punggungnya.

“Hah! Serius, Lo?” Zivar tak percaya, “Udah lahiran? Beh, selamat… selamat. Harapan Lo jadi kakak akhirnya terwujud. Ibu sehat?”

“Alhamdulillah, sehat”.

“Gue telepon istri dulu, dah. Kasih tahu Ibu Lo aja hampir lima puluh masih bisa lahiran. Apalagi dia yang tiga lima,” Zivar membalikkan badannya kembali ke meja kerjanya. Segera dia meraih ponsel dan menghubungi istrinya. Kamu, hanya bisa geleng-geleng.

“Gue ke Om Bob dulu, ya, Bang. Mau izin,” ucapmu. Zivar menjawab dengan anggukan.

Kamu begitu gembira. Ketukan tiga kali di pintu pemilik kantormu itu terasa berirama. Setelah diizinkan masuk kamu segera mengutarakan tujuanmu tanpa basa-basi. Lelaki berusia lima puluh empat tahun yang tidak mau dipanggil Pak, melainkan Om itu tertawa lepas sampai kursi yang didudukinya ikut bergoyang, “Serius? Barakallah. Sampaikan salam Om sama orang tua kamu, ya”.

Kamu menjawabnya dengan satu anggukan.

Well, take your time. Mau seminggu apa dua minggu?” Om Bob menawarkan.

“Kerjaan keteteran nanti Om kalo kelamaan. Dirga izin pulang cepet hari ini aja, besok juga udah kerja lagi. Di Bintaro juga rumah sakitnya,” kamu meyakinkan.

No… no. Seminggu, deh,” tolak Om Bob.

Kamu mulai tampak bingung. Bukan dilarang izin, malah disuruh lama-lama cuti.

“Lagian kerjaan kamu bisa sambil dikerjain di sana. Bulan ini kamu pegang Game Kemendikbud aja, kan?”

Kamu mengangguk.

“Oke. Seminggu, ya. Tolong nanti adikmu itu di videoin. Mau liat, Aku.”

Kamu kembali mengangguk.

“Bilang juga sama Ibu sama Bapakmu, nanti boleh itu adikmu diajak menginap di rumah Om, ya,”

“Iya, Om, nanti Dirga sampein pesannya,”

“Bawalah ya dia ke rumah. Kepingin sekali Aku ini punya anak. Kalau boleh aku yang urus, dengan senang hati,” Om Bob terdengar sungguh-sungguh. Kamu hanya mampu tersenyum. Tidak tahu harus menjawab apa.

“Sekali lagi, barakallah. Selamat ya, Dir! Keren juga Ayah kamu itu,” kalian berdua tertawa.

 

***

Kamu melangkah riang menuju kamar tempat Ibumu dirawat. Satu buket bunga mawar ada dalam dekapanmu. Bunga favorit ibu. Begitu ceria wajahnya saat kamu memberikan bunga itu. Diraihnya keningmu, lalu dicium.

“Terima kasih, Nak,” ucapnya lembut yang membuat hatimu tersentuh.

“Namanya siapa?” tanyamu kemudian, seraya menghampiri bayi mungil yang ada digendongan Ayahmu.

“Kamu mau kasih nama siapa? Kan yang pengen banget punya adik itu kamu. Dibilang nikah, biar punya anak. Malah mintanya adik,” Ayahmu menggoda.

Kamu tersenyum simpul. “Arti. Arti Ibrahim”.

Kedua orang tuamu saling pandang, “Dia berarti banget memang untuk kamu ya. Nungguinnya dua puluh empat tahun,”  Ibu berujar kemudian mengangguk.

***

Kamu yang belum terpikirkan untuk menikah, apalagi punya anak masih terheran-heran dengan keberadaan Arti. Tubuhnya begitu mungil. Hanya tiga koma enam kilogram saat lahir dengan tinggi empat puluh sembilan senti. Semacam raksasa dan kurcaci jika dibandingan dengan dirimu yang mencapai seratus delapan puluh.

“Ini beneran manusia?” pernah kamu bertanya seperti itu yang akhirnya malah kena omel Ibu.

Kamu pun sempat terheran saat mengamati adikmu hampir setiap dua jam menyusu. “Emang kalo bayi nyusu kayak gitu? Sebentar-sebentar? Nggak mual?”

“Namanya juga bayi. Makanannya kan cuma dari asi, Dir. Kamu juga gitu waktu kecil,” Ibu menjelaskan.

“Masa?” kamu menyangkal.

“Mana kamu inget,” timpal Ayah.

Kamu terkekeh.

***

Hanya butuh waktu tiga hari, Ibu dan Arti diizinkan pulang. Kamu begitu gembira. Pukul sepuluh pagi, kalian meninggalkan rumah sakit. Kamu yang mengemudi. Ayah disebelahmu, Ibu dan Arti di belakang. Dengan pelan kamu menekan gas mobil. Memastikan kecepatanmu dalam batas wajar dan stabil.

Seperti biasa, Ibu dan Ayah selalu menikmati perjalanan bersamamu. Menurut Ayah, kamu itu pengemudi terbaik. Aman rasanya jika menumpang mobil yang kamu kemudikan.

Jalanan di Bintaro terasa begitu lengang. Beberapa kali kamu mendapati kendaraan lain melaju kencang diiringi rapalan doa serta sedikit umpatan dari Ibu.

“Doa itu memang pasti dikabulkan ya, Yah, sama Allah. Waktunya aja yang kita nggak tahu. Inget banget Dirga pas SD dulu. Kelas empat, sampe kabur ke rumah almarhum Nenek biar punya adik,” ceritamu berusaha mengalihkan Ibu dari pengendara-pengendara yang tak taat aturan.

“Iya. Doa kamu aja tetap dikabulin. Walaupun lima belas tahun kemudian,” celetuk Ayah yang membuat kalian semua tertawa bersama.

“Itu kayaknya Allah kasian sama kamu. Tiap hari minta adik. Padahal umur udah dua empat. Orang-orang mintanya jodoh, kamu mah aneh,” timpal Ibu.

Kamu melirik spion tengah, ibu menangkap tatapanmu. Ia memberikan senyum indahnya. Kamu pun balas tersenyum.

“Dirga belom kepikiran nikah, Bu. Nantilah, umur tiga puluhan,” jawabmu santai.

Ayah hanya bisa menggelengkan kepalanya.

“Masih enam tahun lagi, kalo Ibu masih punya umur,” Ibu membuang muka.

“Ibu jangan gitu dong ngomongnya. Oke-oke… Secepatnya kalo ada yang cocok Dirga kasih tahu Ibu. Udah, ah, jangan ngomong gitu lagi. Kan masih ada Arti tuh yang baru tiga hari umurnya. Masa Ibu mau cepet-cepet pergi aja”.

“Kalau Ayah sama Ibu udah nggak ada, kamu janji jagain Arti ya, Dir,” tiba-tiba Ayah menyahut.

“Ini lagi pada kenapa, sih? Udah, ah. Dirga nggak mau ada bahasan itu lagi”.

“Kamu janji nggak?” Ibu menuntaskan perkataan Ayah.

Kamu menghela napas, “Iya, Ibu, Ayah. Dirga Janji”.

“Jangan dititip-titip di sodara. Urus sendiri. Nanti adikmu jadi kayak Titah,” Ibu berultimatum.

“Insyaallah, Bu. Dirga janji,” kamu mengangkat jari telunjuk dan jari tengahmu ke udara.

Kamu kemudian kembali melirik Ibu dari spion tengah. Kamu melihat tatapan tajam Ibu. Kali ini kamu akhirnya mengangguk. Tahu betul ekspresi Ibu saat sedang sungguh-sungguh.

Astaghfirullahal’adzim!” serumu  tiba-tiba, memecah kesunyian sekaligus menggegerkannya. Kamu menekan pedal rem dalam.

Ayah dan Ibu sontak menoleh ke belakang. Sebuah SUV sedang melajur tepat menuju mobilmu tanpa ada tanda-tanda untuk berhenti.

“Dirga!” kamu mendengar teriak Ibu sebelum semuanya menjadi gelap.

*bersambung*

 

You may also like

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *