Kakak Rasa Bapak – Part 2

Allahumma ahyina bil iman
Allahumma amitna bil iman
Allahumma ahsyurna bil iman

Wa adkhilnal jannata maal iman
Ya Allah hidupkan kami dengan iman
Ya Allah matikan kami dalam iman
Ya Allah bangkitkan kami dengan iman
Dan masukkan ke syurgamu dengan iman

Semenjak siuman tidak ada yang kamu lakukan kecuali duduk di atas kursi rodamu di sebelah inkubator yang menaungi Arti. Membelainya lembut dengan tangan kirimu melalui salah satu lubang yang tersedia. Seraya terus mengulang-ulang lagu yang kamu tahu sebagai Doa Iman. Suaramu parau. Air mata terus mengalir tanpa henti. Sorotan matamu tidak menuju ke Arti. Entah kemana. Kosong. Siapapun yang mendapatimu di ruang NICU tidak mampu menahan bulir-bulir kristal lepas landas dari sudut mata mereka. Bahkan, dokter utama yang menangani Arti tak tega sehingga mengurungkan niat untuk memeriksa Arti. Ia rela menunggu. Hingga waktu kunjung di NICU habis. Maka kamu akan beranjak dari sana. Meninggalkan Arti dan kembali ke kamar rawatmu sendiri.

Sudah dua pekan berlalu setelah kecelakaan yang melibatkan keluargamu dan SUV itu. Kamu banyak diam. Hampir tak bicara malah. Jika ada yang mengajakmu bicara, kamu lebih sering tak merespon. Kalaupun akhirnya kamu bicara itu sekadar menjawab iya atau tidak. Atau kamu bertanya di mana tidak mudah untuk menjawabnya.

“Kenapa harus kami? Kenapa harus Ibu dan Ayah? Kenapa Bapak itu kena serangan jantung pas lagi nyetir sendirian? Kenapa mobil Dirga pas di depannya? Kenapa?” Dan rentetan pertanyaan kenapa lainnya yang tak bisa benar-benar bisa dijawab. Walaupun ada yang mencoba menjawab, jawabannya tidak akan sesuai yang kamu harapkan.

Kamu masih tidak bisa terima dengan kenyataan ini. Tanganmu semakin sering terkepal. Saat itu terjadi, napasmu terdengar berat. Sorotan matamu memancarkan kemarahan. Namun, sedetik kemudian kamu mereda. Biasanya kamu segera ke kamar mandi dan berwudhu. Lalu shalat, atau sekedar mengaji.

Kecelakaan tersebut mempengaruhimu begitu kuat. Bagaimana tidak, kedua orang tuamu meninggal di tempat. Arti sempat dinyataakan meninggal juga, takdir Allah, detak jantung Arti berfungsi kembali beberapa saat setelah tim medis tidak menemukan tanda-tanda kehidupan pada bayi berusia tiga hari itu.

Kamu terkadang dapat menguasai emosimu. Akan tetapi, masih lebih sering lepas kendali. “Rasanya seneng banget ada Arti. Kepingin Dirga punya adik dari dulu. Tapi, nggak gini juga. Dapet adik, tapi kehilangan orang tua,” tukasmu satu waktu kepada Wa Ato. Om Yanto begitu Ibumu memanggilnya. Seseorang yang mengurus segala keperluan keluarga Ibumu sejak beliau belum lahir. Hingga seperti bagian dari keluarga sendiri. Bahkan, bagimu Wa Ato inilah yang paling sayang ke Ibumu dibanding orang tuanya sendiri, kakek nenekmu.

Saat mengetahui kecelakaan itu pun, beliau segera mengambil penerbangan tercepat dari Bali. Mengurus jenazah kedua orang tuamu dan segala hal yang berkaitan dengannya. Padahal, saat itu ia pun sedang dirundung duka. Anak perempuan satu-satunya baru saja keguguran.

Berkali-kali kamu mengucap syukur atas bantuan Wa Ato. Kondisimu membuat dokter belum bisa mengizinkan kamu mengunjungi makam kedua orang tuamu. Kaki kananmu patah. Benturan di kepalamu masih menyebabkan sakit secara tiba-tiba. Sehingga, sekecil apapun pertolongan beliau begitu berarti.

“Makasih banget Wa bantuannya. Maaf ya Wa, Dirga cuma bisa ngerepotin. Nanti, kalau sudah sehat. Kalau Arti juga sudah sehat. Kita main-main ke Bali ya sambil liburan.”

Wa Ato hanya menanggapinya dengan senyum dan mengacak-acak rambutmu. “Yang penting kalian sehat dulu”.

Kamu tersenyum. “Sekali lagi makasih ya, Wa. Dirga lagi gini, ada yang mau nemenin. Sedih, Wa. Kakaknya mama satu pun belum ada yang ke sini. Setidaknya jenguk Arti gitu, yang masih bayi. Belum tahu apa-apa tentang hidup dan tentang mereka. Nenek juga nggak ada ngabarin apa-apa. Masih syukur sih mereka mau datang ke pemakanan Ibu. Segitunya, ya,” kamu tersenyum kecut.

“Udah, nggak usah kamu pikirin. Yang penting kan kamu nggak sendirian sekarang. Ada Uwa”.

Kamu menghela napas panjang, lalu mengangguk.

***

“Kenapa ya, Wa. Harus kayak gini kejadiannya?” kamu masih kesulitan mengenyahkan pertanyaan itu.

“Dir, udah! kamu nggak boleh ngomong gitu lagi, ya,” balas Wa Ato. Kemudian, Wa Ato mengambil ponselnya dari saku, membuka sebuah aplikasi, “baca ini!” perintahnya, lalu menyerahkan ponsel tersebut kepadamu.

Kamu menerimanya. Pada layar itu, terbuka aplikasi Alquran. Tepatnya di Surat Al Baqarah ayat 216. Kamu mengangkat kepalamu, menatap Wa Ato nanar.

“Baca artinya, keluarkan suara kamu. Wa mau denger!” perintah Wa Ato.

“Dirga nggak sanggup, Wa,” suaramu melemah. Kembali ada yang mengalir membasahi kedua pipimu.

“Baca, nak,” Paksa Wa Ato.

Kamu menelan ludah, “Bisa jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan bisa jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”

Wa Ato mendekat, duduk dipinggir tempat tidur. “Kamu percaya sama Allah?”

Kamu mengangguk.

“Kamu yakin sama pertolongan Allah?”

Kamu mengangguk lagi.

“Jangan. Jangan meragukan apa yang Allah yakin kamu sanggup menempuhnya”.

Kalian saling tatap. Wa Ato mengusap lengan atasmu. Kamu, tanpa aba-aba memeluknya dan menumpahkan sisa-sisa kesedihanmu di sana.

***

You may also like

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *