Kakak Rasa Bapak – Part 3

La tahzan Innallaha ma’ana,” ucapmu lirih kepada dirimu sendiri seraya memasukkan pakaian terakhir ke dalam ransel.

Kamu terhenti sesaat. Mengamati ruangan serba putih yang tiga pekan terakhir menjadi tempatmu memulihkan badan. Seulas senyum menghiasi wajahmu. “La tahzan Innallaha ma’ana,” kamu mengulang kalimat itu. Sejurus kemudian melangkah gontai meninggalkan serpihan-serpihan dukanya di sana.

Kakimu melangkah menyusuri koridor rumah sakit menuju ruang rawat inap anak. Arti sudah tidak lagi di inkubator. Kondisinya sudah luar biasa sehat. Adikmu itu senang sekali tersenyum. Saat dirimu mengajaknya bicara, Arti akan memasang ekspresi seolah mampu memahaminya. Kala momen itu ada, dukamu seolah sirna. Arti bagai sang pelipur lara.

Setibanya di sana Wa Ato sudah siap dengan Arti digendongannya. Kamu mendekati mereka. “Hi, boy. Let’s go home,” ajakmu lembut. Jari telunjuk kananmu menyentuh pipinya. Arti tersenyum. Kamu pun ikut tersenyum. “Ready?” Arti menggerakkan kedua tangan yang tidak ikut dibedong dengan lincah.

***

“Kenapa, Dir?” tanya Wa Ato saat kamu mematung di depan pintu taksi yang akan membawamu pulang. Kamu menggeleng, lalu membuka pintu itu dan masuk diiringi Wa Ato.

Supir taksi mulai menjalankan mobilnya dengan pelan. Kamu melihat jalan di depanmu, kemudian pandanganmu terhenti tepat di spion tengah. Mendadak wajahmu memucat. Keringat mulai bercucuran. Beberapa kali kamu meremas-remas jemarimu.

“Dir?” Wa Ato memastikan.

“Nggak apa-apa, Wa,” kamu mencoba meyakinkan.

Kamu menarik napas dalam. Mengalihkan pandanganmu ke layar ponsel.

***

Sesampainya di rumah, kamu minta izin ke Wa Ato untuk menyendiri beberapa saat. Ada sebuah sofa kayu dengan nuansa bunga merah muda dan ungu kesukaan ibumu di teras belakang. Kamu duduk di situ. Menekuk kedua kakimu dan membenamkan kepalamu di antaranya. Menikmati kenangan yang tersimpan di sana.

***

Selama dua hari penuh sepulang dari rumah sakit, Wa Ato menemanimu. Mengajari berbagai hal yang berkaitan dengan bayi sebatas yang ia ketahui. Malam ini, Wa Ato akan kembali ke Bali.

“Wa, Udah siap?” tanyamu.

“Sedikit lagi,” jawab Uwa sambil menunjuk ke arah barang-barang yang berserakan di lantai kamar tamu itu.

Kamu mendekat, duduk di atas kasur yang tanpa tempat tidur. Arti ada dalam gendonganmu. Matanya sibuk melirik ke kanan dan ke kiri. Sedangkan, tangan dan kakinya masih berjuang untuk lepas dari bedongan.

“Wa…” kamu tidak jadi melanjutkan pertanyaanmu.

Kini Wa Ato menghentikan aktivitasnya. Bangkit dari lantai dan duduk di sebelahmu. “Ada apa, Dir?”

Kamu merogoh ponsel dari kantong celana pendekmu, membuka aplikasi pesan instan lalu memperlihatkannya kepada Wa Ato.

Wa Ato merenung. Beberapa kali ia membaca kembali pesan yang ditunjukkan Dirga. “Sebentar Uwa mau telepon dulu Tante Enda,” Wa Ato mengembalikan ponselmu, meraih ponselnya sendiri lalu keluar.

Kamu tidak beranjak. Sambil menunggu yang kamu lakukan berulang adalah membelai Arti. Hingga ia tertidur. Tak lama, Wa Ato kembali. Ia duduk di tempat yang sama.

“Kamu maunya gimana?” tanya Wa Ato.

“Nggak tahu, Wa. Kok, gitu banget ya?” suaramu mulai serak, matamu berkaca-kaca, “itu yang namanya saudara?”

Kamu menatap nanar Wa Ato. Pria setengah abad satu windu itu mengusap-usap punggung Dirga. “Uwa bantu bicara ke Nenek dulu. Kamu nggak perlu ambil tindakan apa-apa. Nanti, setelah dapat kabar dari Uwa. Oke?”

“Tapi, Wa, kalau itu memang janji Ibu ke Nenek biar Dirga penuhi. Biar nggak ada beban ke keluarga Ibu. Capek Wa urusan sama mereka. Nggak apa-apa mau bener atau enggak yang mereka bilang, Dirga bayarin aja. Biar selesai urusan sama mereka. Abis itu udah, Dirga nggak akan nganggu-ganggu mereka lagi. Toh, Ibu udah nggak ada kan? Nggak ada alasan juga untuk berkunjung”.

“Dir…”

“Dari Dirga kecil juga Dirga nggak pernah diharapinkan, Wa. Nggak pernah dianggap cucu. Nggak dianggap keponakan. Nggak pernah dibolehin untuk sekadar nginep di sana atau liburan bareng. Kalau udah Dirga sampai, nggak ada sepupu yang mau main. Satu-satunya yang main sama Dirga cuma Titah. Itu juga pasti karena Titah ngerasa hal yang sama dengan Dirga…”

Wa Ato diam. Mengamatimu dan membiarkanmu melepaskannya.

“Satu-satunya alasan Dirga tetap dateng ke tempat Nenek setiap lebaran ya karena Ibu. Karena Ibu yang minta. Ibu aja yang kelewat baik”,

“Nenek kamukan Ibunya, Ibu, Dir”,

“Iya, Ibu yang durhaka sama anaknya!”

“Dirga! Sudah, kamu boleh marah. Kamu boleh kesel, kamu boleh nggak suka. Tapi, perempuan itu tetap nenek kamu. Ada darahnya di darah kamu.”

Napas Dirga menggebu. Wajahnya yang kuing langsat terlihat memerah.

“Kalau kamu mau bayarin, silahkan. Tapi, tunggu kabar dari Uwa. Uwa perlu tahu Nenek kamu itu yang sudah seusia Indonesia masih pinjam uang seratus juta ke Bank untuk apa. Anaknya ada delapan dan semuanya, secara ekonomi mapan. Ada hal-hal yang belum bisa Uwa jelasin ke kamu tentang Nenek kamu. Selesai Uwa bicara dengan dia, Uwa kabarin kamu. Biar kamu tenang, sudah nggak perlu direspon-respon dulu Kakak-Kakak Ibumu itu. Paham?”

Kamu mengangguk.

Wa Ato menyelesaikan barang-barangnya, lalu pamit.

***bersambung***

You may also like

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *