Kakak Rasa Bapak – Part 4

And so the adventure begins. #brotherhood.

Kamu baru saja mengunggah potret Arti dengan kata-kata itu sebagai caption-nya. Dalam hitungan detik, masuk puluhan pemberitahuan. Kedua ujung bibirmu terangkat. Tawa renyahmu mengisi ruang-ruang kosong kamar tidur saat membaca komentar-komentar yang berdatangan.

Welcome to the zombieland, Sob.

Dir, adik lo jodohin aja sini sama anak gue.

Aduh, calon mantu masih kecil aja udah keliatan gantengnya. Sehat terus ya, Nak.

Love, Arti…. Ini dede bayi yang di perut perempuan, loh.

Jadi anak sholeh ya, Nak. Jangan kayak abang kamu. Bahaya. Wkwkwwkwk….

Dir, jangan dijadiin percobaan plis. Hahaha….

Kedua ibu jarimu terus bergerak di atas layar ponsel. Semakin banyak yang kamu baca, semakin menggema tawa yang kamu hasilkan. Pertualangan ini baru saja di mulai. Belum genap dua jam.

Kalian terbaring di atas kasur sekarang, sama-sama menatap langit-langit. Arti yang masih utuh bedongannya sibuk melihat ke sana-kemari. Kamu sibuk memikirkan entah apa.

“Art,” panggilmu ke Arti, tanpa berharap ada jawaban darinya. Kamu menoleh ke arahnya. “Sekarang kita ngapain?” tanyamu. Kamu memandangi Arti seksama. Meneliti setiap gerak-geriknya.

“Hmm… Kamu mirip siapa, ya, Art?” sekarang kamu bertelungkup.

“Mungkin mirip Abang Dirga, ya. Iya, dong kamu kan adiknya Abang,” kamu mengacak-acak rambut Arti, “Arti ganteng juga kok kayak Abang”.

Kamu terus memainkan rambut Arti yang hitam lebat. “Bobok, yuk!” kamu melihat jam dinding, “sudah jam sepuluh malam”.

Kamu beranjak dari kasur. Mengambil botol susu yang kotor, lalu ke dapur. Secepat mungkin kamu membuat susu lagi. Kemudian kembali ke kamar dengan tambahan termos, air putih, dan susu bubuk yang sudah ditakar dan di masukkan ke dalam tempat khusus.

Kamu memberikan susu itu kepada Arti, dia meminumnya dengan lahap. Butuh waktu kurang dari sepuluh menit sembilan puluh mili air susu itu ludes. Namun, hingga setengah jam berikutnya Arti belum juga tertidur. Kamu berinisiatif menggendongnya, mengayyun-ayunkannya dalam dekapanmu. Mata Arti mulai sayup-sayup, tetapi lima belas menit berlalu dan adikmu itu belum juga memberikan tanda-tanda akan tidur.

“Kamu kenapa, Art? Yuk, bobo. Abang udah ngantuk juga,” ajakmu penuh harap. Sebagai jawabannya Arti hanya menatapmu. Kamu mengernyitkan dahi, “Abang nggak paham maksud kamu, Art”.

Arti tak bergeming. Ia tetap saja seperti itu, memandangimu dengan saksama. Kamu menatapnya balik, mencari tahu apa yang ingin disampaikan adikmu.

“Oh…” tiba-tiba kamu bergumam. Melangkahkan kakimu kembali ke tempat tidur. Membaringkan Arti di sana dan merebahkan tubuhmu di sebelahnya. Kamu mengambil posisi menyamping. Satu tanganmu mengusap lembut dahinya dan yang satunya lagi kamu letakkan di atas dadanya hingga menutupi muka tubuhnya.

“Allahumma ahyina bil iman. Allahumma amitna bil iman. Allahumma ahsyurna bil iman. Wa adkhilnal jannata maal iman. Ya Allah hidupkan kami dengan iman. Ya Allah matikan kami dalam iman. Ya Allah bangkitkan kami dengan iman. Dan masukkan ke syurgamu dengan iman…”

Kamu melantunkan Doa Iman. Perlahan Arti terpejam.


*bersambung*


You may also like

Abe

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *