Kakak Rasa Bapak – Part 5

“Bang! Help!” kamu memekik kepada ponselmu.

“Gila lo, Dir! Jam berapa ini? Tengah malem cuy. Lo nelepon, tuh, salam dulu. Bukan teriak-teriak,” terdengar suara Bang Zivar dari pengeras suara ponselmu.

Sorry, Bang. Sorry. Urgent soalnya. Assalamu’alaikum,”

Wa’alaikumusalam. Kenapa?”

“Bang, bayi kalau senyum-senyum sendiri itu kenapa?” ada nada panik dalam tanyamu.

Bang Zivar tertawa terbahak-bahak.

“Bang, gue seriusan nanya. Lo mah gitu. Ini Arti bangun dari jam satu, sudah mau jam dua belum tidur lagi. Yang ada malah senyum-senyum sendiri,” kamu mengedarkan pandangan ke seluruh kamar. Mendadak hawa dingin terasa.

Bang Zivar masih menyelesaikan tawanya. “Nggak apa-apa itu, kalau kata emak gue sama emaknya Dinta itu adik lo lagi diajak main sama malaikat,” dengan santai Bang Zivar menjawab.

Kamu mengernyitkan alis. Arti masih sibuk menebar senyum entah untuk siapa. Kamu bergidik.

“Asli Bang jawaban lo nggak ada yang lebih masuk akal?” kamu berusaha untuk tidak mempercayainya.

“Bener. Lo tanya coba sama Uwa lo sana. Pasti jawabannya sama kayak jawaban gue,”

“Udah balik orangnya tadi sore,”

“Oh… Pantesan lo nelepon gue. Udah tenang aja. Itu normal bayi suka senyum-senyum sendiri. Atau mungkin Ibu sama Ayah lo lagi jengukin kalian. Terus, ade lo seneng. Senyum-senyum deh dia,”

Kamu melempar pandangan ke seluruh kamar. Sepi. Tidak ada siapa-siapa, tidak ada suara apa-apa. Bulu kudukmu berdiri.

“Geu nanya ke orang yang salah,” katamu ketus.

Bang Zivar kembali tertawa, “Serius Dirga… gue nggak pernah tahu alasan ilmiahnya bayi suka senyum-senyum sendiri. Yang jelas itu normal. Nggak cuma di ade lo doang. Anak gue juga gitu kok waktu bayi”.

“Terus, lo apapin?”

“Dinikmatilah!”

“Bang!”

Lagi-lagi Bang Zivar tertawa.

“Lo mau gue jawab apa? Hidup lo kadang tuh logika banget. Kebanyakan ngoding”.

“Kerjaan, Bang.”

By the way, besok anak-anak kantor sama Om Bob mau ke sana.”

“Udah tahu. Lah kan gue baca grup juga,”

“Oh, iya. Lupa gue. Wajar, tengah malem ini. Lo baca-bacain aja si Arti. Biar lo tenang,”

“Gue mau cari di google ajalah. Tetep nggak percaya sama jawaban lo. Nggak make sense,” kamu memutuskan sambungan telepon tersebut.

Kamu pandangi Arti. Bedungannya sudah lepas. Tangan dan kakinya kini bebas bergerak-gerak. Namun, Arti nampak tidak nyaman. Raut mukanya seperti ingin menangis tetapi tidak jadi. Kamu mencoba memasangkan kembali kain bedungannya. Berkali-kali dicoba, tidak satu pun berhasil. Kamu menghela napas panjang, “Oke. besok kita cari bedongan instan aja, ya. Yang gampang dipakenya.”

*bersambung*

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *