Kakak Rasa Bapak – Part 6

Ini minggu pertama kalian berdua. Arti sempat bangun saat subuh. Kemudian, tertidur lagi setelah matahari terbit. Kantung mata mulai menghiasi wajahmu. “Well, welcome to the zombieland!” serumu kepada diri sendiri saat berkaca tadi pagi setelah mandi.

Hari ini kamu telah menyediakan beberapa rencana. Yang pertama adalah bicara dengan Mba Jum. Pekerja paruh waktu di rumahmu yang mengerjakan segala urusan rumah kecuali memasak. Mba Jum datang pagi hari sekitar pukul tujuh. Pekerjaannya biasa selesai pukul sepuluh. Setelah itu, ia melaksanakan tugas yang sama di rumah lainnya. Mba Jum hanya bekerja Senin sampai Jumat. Akhir pekan ia meminta libur agar bisa menghabiskan waktu bersama anak-anaknya. Namun, hari ini kamu benar-benar membutuhkan dirinya. Subuh tadi kamu menghubunginya.

“Cuma minggu ini aja, Mba Jum. Insyaallah,” katamu meyakinkan dirinya dua hari yang lalu.

Mba Jum memenuhi permintaanmu. Dengan cekatan Mba Jum mengerjakan pekerjaannya. Mba Jum menghampirimu yang sedang menikmati secangkir kopi di sofa teras belakang.

“Tadi katanya ada yang mau Mas Dirga omongin,” ucap Mba Jum.

“Iya, Mba Jum. Mba Jum duduk dulu,” kamu mempersilahkan Mba Jum duduk.

Mba Jum duduk di sofa seberang. Kerut-kerut wajahnya membuat dirinya tampak lebih tua dari Ibumu. Padahal, usianya belum sampai empat puluh. Namun, sorotan matanya begitu teduh. Matamu berbinar. Saat kamu mencoba menatapnya kembali, ada sesuatu seolah mengalir di dadamu. Kamu mencoba menundukkan kepala. Berusaha menahan air mata. Kamu rindu Ibumu.

“Mba Jum, besok Dirga udah mulai kerja lagi. Arti nggak ada yang jaga Mba. Kalau Dirga nggak kerja kan nggak mungkin juga. Mba Jum bisa nggak ya sekalian jaga Arti?”

“Maaf, Mas. Mba Jum sekarang pegang tiga rumah. Waktunya nggak ada. Kalau pas di sini, Mba Jum bisa bantu jaga. Cuma ya sampai Mba Jum selesai ngerjain kerjaan di sini aja. Maaf ya, Mas”.

Kamu sebenarnya sudah tahu akan jawaban Mba Jum. Hanya saya kamu perlu Mba Jum menjawabnya langsung. Masih ada sedikit harapan Mba Jum dapat membantunya.

“Emangnya dari keluarga Ibu nggak ada yang bisa bantu jagain Arti, Mas?”

Kamu menggeleng.

“Kalau aja Bapak punya keluarga ya, Mas”.

Kamu tersenyum kecut. “Sayangnya Ayah sendiri nggak tahu orang tuanya siapa. Sama kayak Arti nanti. Nggak pernah tahu gimana orang tuanya,”

“Beda, Mas. Setidaknya, Arti tahu siapa orang tuanya”.

Kamu mengarahkan pandangan ke halaman. Tatapanmu kosong.

“Mas, setiap hari saya inget terus sama almarhum suami. Nggak akan kebayang akan kayak gimana jadinya. Hati rasanya berat. Kehilangan orang yang kita sayang itu nggak akan pernah mudah, Mas. Tapi, seiring berjalannya waktu saat kita inget lagi tentang mereka, rasanya nggak akan sakit lagi. Yang ada bahagia”.

Kamu beralih memandang Mba Jum sekarang.

“Mba Jum coba tanyain siapa tahu ada saudara Mba Jum atau tetangga yang mau bantu jagain Arti,”

“Makasih ya Mba Jum. Untuk semuanya”.

***bersambung***

You may also like

Abe

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *